Monday, May 21, 2012

Suku Merah, Suku Yang Penduduknya Harus Mandi Dgn Tanah Merah

DUNIA ini memiliki banyak benua, ratusan negara, dan ribuan suku. Banyak suku tradisional unik dengan gaya hidup menarik yang akan membuat Anda tercengang. Salah satunya adalah Suku Himba di Namibia, Afrika. suku Himba adalah suku etnis berjumlah 20.000 hingga 50.000 orang yang hidup di Namibia utara. Mereka adalah suku semi nomaden, yang berarti tempat tinggalnya tidak selalu permanen. Keunikan anggota suku Himba daripada suku lainnya di dunia adalah kulit penduduk wanitanya yang berwarna merah. Warna merah ini bukanlah warna alami, melainkan bagian dari tradisi. Setiap pagi wanita Himba mengoleskan pasta berwarna merah ke kulit dan rambut mereka, menjadikannya berwarna hampir serupa dengan warna tanah tempat tinggalnya.

Mereka mengoleskan campuran lemak mentega dengan mineral khusus berwarna merah serta wewangian dari daun semak ke sekujur tubuhnya. Selain sebagai tabir surya dan pengusir serangga, krim ini membuat kulit terlihat berkilau kemerahan, symbol dari warna tanah yang kaya dan darah yang merupakan representasi kehidupan. Rambut mereka dikepang kecil dan turut dilapisi campuran mineral hingga kaku dan kecoklatan.
Rambut wanita yang sudah menikah disibak ke belakang dan memiliki hiasan kulit bagian atas, sementara kepangan rambut anak perempuan yang menginjak masa puber dibuat menutupi wajah Sebagai suku monoteis, suku Himba menyembah Mukuru sebagai dewa yang dipercaya memberikan berkah. Jika dewa tersebut sedang tidak dapat menjawab mereka, arwah nenek moyang akan menjadi perwakilan Mukuru.
 Suku Himba hidup secara semi-nomaden sambil beternak. Setiap desa dipimpin oleh tetua pria dan terdiri dari keluarga besar. Pembagian kerja antara pria dan wanita cukup berbeda dari suku lainnya. Selain mengurus para anak kecil, wanita Himba banyak melakukan pekerjaan berat seperti membangun rumah dan mencari kayu. Urusan politik dan hukumlah yang diserahkan pada kaum pria. Keunikan suku Himba lainnya adalah system keturunan yang bilateral demi bertahan hidup dari kondisi alam yang keras. Setiap orang merupakan anggota dari dua klan yaitu klan ibu dan ayahnya, sehingga ada dua pihak yang dapat diandalkan dalam keadaan darurat

Sejak tahun 1990an, Suku Himba telah sukses memertahankan budaya tradisional mereka dan menjadikannya bagian dari pariwisata. Meski menjaga tradisi, mereka tetap terbuka terhadap kehadiran orang asing.

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]
#11fcba

0 comments:

Post a Comment